Autumn Leaves

Tasya. Indonesian. 15. If don't mind you can give me a present at December 4th (◠‿◠✿). Melancholist. Tea & Coffee freak. K-Pop addicted. Good person. Caterpillar-Spider haters. Mood fickled. I'm sorry if you found a boring things here. I make the tags too. Let's check it out dear *:・゚✧*:・゚

Being overwhelm to those ones :")

Fangirling Blog | Cute Stuff |About Me \(◕‿◕✿)/ | My Boat | Twitter

«rewind

Ask




{★} THEME
mochacafe:

via Most NOTED Posts
Some people feel the rain, others just get wet.
—Bob Dylan (via cleverhood)
‘Tahu Diri’ sung by Maudy Ayunda

Hai selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada di sini

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini

Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil 
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama 
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Bye selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu 
Lebih baik kau tiada di sini

Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa

Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil 
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama 
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah

Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Tangan

pelukishujan:

Ada sunyi yang menyenangkan ketika kita duduk berdua, tanganku dalam genggamanmu.

Aku tidak bisa ingat sejak kapan, tapi selalu ada nyaman terselip tiap telapakmu menyentuh telapakku, lalu kita tersenyum.

The letter

Detik demi detik. Menit demi menit. Sampai aku menemukan telah menunggu sampai sekitar 20 menit. Cuaca pagi ini membuat sendi-sendi tulangku tidak senyaman biasanya. Dengan sedikit kesal aku hanya memutar-mutarkan pergelangan tanganku. This isn’t going to be good I guess. Masih aku genggam dengan kuat sebuah amplop berisi surat keterangan. Tapi aku masih belum melihat titik dirimu. 

Lalu, sebuah figur berjalan ke arahku. Figur itu masih beberapa meter lagi untuk mencapai tempatku. Aku memicingkan kedua mataku hanya demi melihat siapa figur yang cukup tinggi itu. Seseorang dengan sebuah helm. Ya, itu kau

Aku tak sebernyali seseorang yang diceritakan dalam lirik lagu perahu kertas. Aku tidak akan menuliskan kata-kata gila yang nyata di dalam surat dan memberikannya padamu. Tidak. Setidaknya aku belum segila itu. Itu hanya surat keterangan. Percayalah. 

Tidak 5 menit aku melakukan kontak. Kenapa bahkan itu seolah-olah berakhir hanya dalam sepersekian detik? Tapi nyatanya rekorder di kepalaku masih berfungsi dengan baik. Semuanya masih terekam jelas dalam HD. Gestur yang hanya beberapa itu masih bisa aku re-play dengan jelas. 

Why r u do freaking gorgeous this morning? ┻━┻~☆ ヽ(´∇`ヽ) 

Jika saja aku punya lebih banyak waktu tadi pagi untuk setidaknya mengobrol denganmu, aku mungkin tidak akan semerindukanmu begini. 

Aku sudah pernah belajar mencintai sendirian. Dan Aku percaya bisa melakukannya lagi.
Another man, kau berbeda. Kau bukan menari di atas kata-kata. Tapi kau menari untuk kata-kata. Terimakasih (:
—Tasya, Oct 25th ‘12
Kau yang terus melemparkan jiwamu ke setiap pintu yang terbuka. Menghitung siapa saja yang menunggu untuk itu. Yang pada akhirnya kau tersenyum puas dan kembali menari di atas kata-kata.
—Tasya, Oct 25th ‘12
Aku benci melihatmu terus menari di atas kata-kata.
—Tasya, Oct 25th ‘12